Jumat, 28 Maret 2014

Essai Teknokom Tugas 3



Akses, Involvement (Keterlibatan) dan Interaksi Penggunaan Internet


Pembahasan kali ini akan membicarakan tentang akses, keterlibatan, dan Interaksi penggunaan Internet yang terus tumbuh di kalangan masyarakat. Dahulu penggunaan Internet dipakai semata-mata untuk kepentingan perang atau militer untuk mencari data atau informasi guna mencapai tujuan tertentu. Saat ini penggunaan Internet justru semakin mengancam kalangan old people (orang yang terdahulu) yang justru terancam Terintimidasi akibat munculnya ‘New Tekhnologi’. Contohnya : saat ini orang yang sudah lanjut usia mempunyai alat komunikasi seperti handphone, tetapi tidak bisa memakainya, dan membutuhkan bantuan yang lebih muda agar bisa memakainya.

Ada dua perspektif yang berbeda mengenai hal-hal yang terkait dengan access terhadap komputer/internet, yaitu:
  • Perspektif Pesimistis 
Dalam perspektif pesimistis menganggap adanya suatu kekhawatiran dalam penggunaan akses yang tidak merata. Dengan adanya penggunaan akses yang tidak merata ini, keuntungan dari manfaat akses tersebut juga akan tidak sama meratanya dengan orang-orang yang memiliki akses penggunaan internet.
Di dalam penelitian, kaum minoritas seperti Afrika tidak memiliki banyak pengetahuan tentang adanya akses penggunaan internet. Dan dalam sebuah penelitian mereka (kaum minoritas) kurang memiliki akses ke jaringan internet. Bagaimana mereka akan mendapatkan akses penggunaan internet sedangkan menurut penelitian (Neu, 1999) mereka mempunyai rumah yang biasa, ini bisa diartikan mereka tidak memiliki komputer. Hal ini sangat berbeda dengan kaum golongan putih seperti Asia, mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggunakan media online seperti penggunaan internet dibandingkan dengan mereka yang berada di dalam kaum minoritas (Afrika).
Contoh kasus di Indonesia:
Di Indonesia sendiri tidak semua orang bisa dan mampu bersentuhan langsung dengan teknologi canggih. Dengan kata lain, hanya segelintir orang yang mampu menggunakan teknologi. Dampaknya, hasil-hasil teknologi juga hanya dapat dinikmati segelintir orang. Lebih lagi, orang-orang seperti itu seringkali menggunakan teknologi sebagai alat untuk menguasai kelompok yang tidak memiliki akses terhadap teknologi. Dampaknya, jurang antara orang yang memiliki akses dengan teknologi dan orang yang sama sekali tidak memiliki akses, sangat dalam. Disini, justru terjadi ketidakadilan sosial yang menimbulkan kesenjangan sosial. Contohnya di pelosok-pelosok desa di Indonesia masih ada yang belum tersentuh oleh teknologi sehingga tidak memiliki akses untuk mendapat informasi. Suku Baduy dalam misalnya saja, mereka masih kental akan kepercayaan mengenai nenek moyang atau leluhurnya. Mereka sama sekali belum tersentuh teknologi dan tidak memiliki aksesabilitas.
  •  Perspektif Optimis
Banyaknya informasi yang ada serta kemudahan yang tersedia melalui teknologi modern tentu saja bukan hanya menjadi hak sekelompok individu tertentu, namun juga menjadi hak dan kebutuhan setiap individu, termasuk penyandang cacat. Penyandang cacat dengan keterbatasan yang disandangnya juga harus mendapatkan perhatian yang optimal dalam memperoleh informasi baik melalui bantuan pemerintah maupun organisasi sosial yang bergerak dalam bidang pelayanan kepada penyandang cacat. Kemudahan dalam mengakses informasi untuk mendapatkan barang, fasilitas, dan pelayanan sosial melalui internet (online) sangat bermanfaat bagi penyandang cacat. Hal ini karena penyandang cacat mengalami kesulitan untuk beraktifitas seperti meninggalkan rumah, membaca, atau menulis dalam bentuk tulisan normal serta mengalami hambatan dalam berbicara, sangat membutuhkan berbagai kemudahan dalam mengakses informasi sehingga mengurangi hambatan yang dirasakan.
Contoh kasus di Indonesia:
Berdasarkan sensus BPS tahun 2003 jumlah penyandang cacat di Indonesia 0,7% dari total jumlah penduduk 211.428.572 jiwa atau sebanyak 1.480.000 jiwa. Sedangkan pada tahun 2006 jumlah tersebut mengalami peningkatan hingga mencapai 2.810.212 jiwa. Berangkat dari sini sarana aksesabilitas yang memadai merupakan hak bagi penyandang cacat yang telah diatur pemerintah melalui undang-undang nomor 4 tahun 1997 tentang penyandang cacat dan peraturan pemerintah nomor 43 tahun 1998 tentang upaya peningkatan kesejahteraan sosial penyandang cacat. Namun, demikian hingga kini tampaknya keberadaan kebijakan tersebut belum memberikan manfaat yang optimal kepada penyandang cacat. Selama ini, penyediaan aksesabilitas bagi penyandang cacat lebih banyak pada akses terhadap sarana dan prasarana pelayanan sosial (fisik) dibandingkan dengan akses pelayanan informasi dan pelayanan khusus (non fisik).

Berbicara mengenai Internet dan Teknologi tidak hanya dibicarakan hanya mengenai Hardware dan Software, tetapi sesungguhnya dibalik itu semua ada ‘Value’ bagi masyarakat yang sebagian besar belum bisa menerima kehadiran adanya ‘New Tekhnologi’ secara value yang di katagorikan sebagai ‘Perspektif Pesimistis’. Dan di masa yang akan datang sesungguhnya Teknologi akan semakin mengancam generasi tua, karena mereka sebagian besar berfikir bahwa New Tekhnologi adalah bukan bagian dari Jamannya, hal itu merupakan kendala pertama yang harus diselesaikan termasuk di masyarakat Indonesia.

Pengalaman sehari-hari, teknologi juga membahas tentang Gender. Ketika berurusan tentang Teknologi, biasanya karakteristik seorang Bapak atau Ayah cenderung lebih berkecimpung dalam dunia Teknologi. Teknologi terkesan memilah manusia yang terberdaya dengan teknologi, contohnya : Internet lebih untuk dunia laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Konteks ini sesungguhnya adalah dalam penggunaan tertentu, gender mempunyai peran tersendiri.

Menurut saya Indonesia termasuk dalam katagori Pesimis Perspektif dalam penggunaan Internet. Kenapa? Karena dilihat dari segala aspek, ekonomi, literasi, dan kependudukan, Indonesia masih jauh dari kata Optimis dalam penggunaan New Teknologi. Masih banyak hal yang harus diperbaiki, khususnya budaya Literasi. Bagaimanapun budaya Literasi adalah asal mula seorang individu akan menambah pengetahuannya dengan berbagai hal termasuk dengan pencarian informasi melalui New Teknologi, dan juga dari segi ekonomi, masih banyak masyarakat kita yang hidup serba kekurangan. Bagaimana bisa masyarakat mengikuti perkembangan Teknologi, jika kebutuhan pokoknya saja tidak bisa terpenuhi.

Partisipasi Politik di era Internet saat ini, semua orang yang mengakses Internet akan diberondong oleh informasi dengan sangat banyak dan cepat tanpa adanya kesempatan bagi kita untuk memilah dan menginternalisasi informasi tersebut seolah-olah kita tidak mengetahui apa-apa tentang persoalan Negeri ini. Di Indonesia penggunaan Internet hanya untuk menampilkan sosok seorang figur yang tujuannya semata-mata sebagai Pencitraan belaka. Contoh partisipasi politik di Indonesia saat ini adanya suatu berita di halaman web tentu ada kolom komen yang tersedia, saat itulah masyarakat yang mengakses berita tersebut memberikan testimoni yang beragam mengenai berita yang mereka baca, mulai dari testimoni yang positif, mengejek, maupun komen yang membangun, padahal hanya sebagian kecil yang berpartisipasi, tetapi testimoni ini tentu juga bisa mempengaruhi mayoritas masyarakat yang mengkaskses berita tersebut.  Hal ini termasuk dalam bentuk Partisipasi politik.

Pada suatu hari dimana pengguna Internet semakin lama semakin berkembang, suatu komunitas organik harus menegaskan identitas mereka melalui Komunikasi Virtual, contohnya : saat ini banyak sebagian bahkan hampir semua institusi pendidikan membuka pendaftaran siswa atau mahasiswa baru melalui dunia maya dengan web yang sudah tersedia, dan semua informasi yang dibutuhkan lebih jelas secara detail terpampang atau tertulis di dunia maya.   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar